Hindari Bisnis Lobster Budidaya, Disamping Ini Tidak Efisien Ini Akan Jadi Sindikat Baru Pasar Gelap
Hidup ya realistis saja, memperjuangkan ideologi dan
metodologi haruslah realistis (terbuka dengan pengembangan dan probabilitas). Bukan
malah harga mati.
Tentang bisnis lobster budidaya kalau bisa memang jangan
ngeyel dilakukan. Cukup sebatas lobster tangkap laut. Kenapa seperti itu? Bukti
temuan lapangan menunjukkan bahwa penangkaran dijadikan modus penyelundupan
benur lobster “ke luar negeri”. Demand benih untuk riset oleh negara tetangga
itu ditengarai hanya modus untuk mengambil benur lobster dari perairan
Indonesia. Budidaya lobster yang ada saat ini hanya sebatas pembesaran, belum
pembenihan. Di dunia belum ada yang berhasil mengembangkan pembenihan lobster. Kalaupun
dipaksa tetap lobster budidaya, maka biayanya akan melompat tinggi sekali. Jika
lobster budidaya tetap dilegalkan, maka akan membuka celah sindikat
penyelundupan kembali (menyelundupkan bibit2 lobster seperti dulu lagi).
Buktinya apa/ pernah dicek di lapangan, ternyata yang
katanya riset nyatanya bohong2an, nalar riset pasti mencari yang indukan untuk
reproduksi, tapi yang mereka lakukan adalah menampung secara besar2an benur2
kecil lobster. Dan saat distop, ternyata mereka tidak ada yang berani komplain.
Berdasarkan data Fish Stat KKP, selama tahun 2010-2016, lobster tangkap
mendominasi produksi dunia sebesar 99,54%, sedangkan lobster budidaya hanya
sebesar 0,46%. Inilah kenapa bisnis lobster budidaya bisa dipastikan tidak akan
efisien. Lebih baik, kita bertumpuberfokus saja pada lobster tangkap di laut.
Kendala teknis dan dasar pembengkakan biaya adalah yaitu siklus
hidup lobster itu panjang. Dibutuhkan waktu minimal 2 tahun dari benur yang
masih transparan dengan berat 0,5 gram hingga dibesarkan menjadi 300-500 gram. Apalagi,
untuk menjadikan lobster dewasa dan layak konsumsi itu diperlukan waktu 8 tahun
(sangat lama), dari benur lalu lobster hingga lobster bisa kawin. Seharusnya lobster
termasuk hewan yang dilindungi, bukan hewan konsumsi. Produksi lobster tetap
bertumpu pada tangkapan langsung di laut, bukan di budidayanya. Upaya budidaya
lobster hanya pemborosan anggaran.
Pemerintah tidak akan mengubah kebijakan produksi lobster
dalam negeri. Jadi pemerintah acuannya tetap di lobster tangkap. Kenapa seperti
itu? Karena dengan menjaga benur lobster tetap di laut, maka ekonomi kelautan
yang berkelanjutan dapat terjaga dengan baik. Cara ini bisa meningkatkan
produksi dan menjaga keberlangsungan lobster dengan baik.
Lobster tangkap tetap menjadi strategi utama peningkatan
produksi, karena dari tahun ke tahun lobster tangkap selalu mendominasi
produksi dari tahun ke tahun. Budidaya lobster bisa kalau memang masih ngeyel
dilakukan, namun sebatas pembesaran benur saja. Adapun pemijahan lobster itu
sulit dilakukan.
Kendala solusi pengembangan lobster ada di 2 titik, yaitu
teknologi yang minim dan minimnya pengetahuan. Ada yang bisa (Australia), tapi
dia menutup diri negara lain untuk ikut mempelajarinya.
Terkait solusi teknologi. Ada yang melakukan pendekatan/
solusi teknologi, yaitu LIPI. Yang dilakukan LIPI sejak 2015 hanyalah baru
membuat pakan buatan berupa moist untuk
menggantikan makanan utama benur lobster, yaitu ikan rucah. Pakan
diformulasikan sedemikian rupa sehingga bisa diterima benur. Hasilnya, inovasi
pakan ini bisa diterima benur.
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan Dilindungi Hak Cipta!

Comments
Post a Comment